Selamat ulang tahun, Ma!

Selamat ulang tahun, Ma! 🙂

Begitu status yang ditulis seorang teman di situs jejaring sosial. Sebuah tindakan sederhana namun manis. Manis sekali. Dari seorang anak untuk ibunya. Setidaknya itu salah satu bukti cintanya pada ibu. Mengucapkan selamat ulang tahun di hari ulang tahunnya.

Aku tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibu. Tak pernah memberi kado di hari ulang tahunnya. Bukan aku tak sayang pada Ibu. Aku sayang padanya. Teramat sangat. Hanya saja aku tak pernah tahu tanggal berapa persisnya Ibu dilahirkan.

Di buku raport SD Ibu jaman dulu ditulis tanggal lahirnya adalah 10 Januari 1970. Pertama kali mengetahuinya aku senang, akhirnya aku tahu kapan ulang tahun Ibu. Tapi tak berapa lama kemudian kulihat di KTP Ibu tanggal lahirnya adalah 1 Januari 1971. Aku cek di kartu keluarga, 1 Januari 1970. Di catatan yang lain tentang data Ibu, tertulis 1 Desember 1970. Aku bingung.

“Jadi sebenarnya tanggal lahir Ibu itu kapan? Trus umur Ibu sekarang berapa?” tanyaku euatu hari.

“Ya pastinya sihngga tahu, Nduk. Yang jelas kira-kira Ibu ini umurnya lima tahun lebih muda dari Pak Dhe-mu,” tutur Ibu.

Kata Ibu, maklum saja orang jaman dulu -maksudnya si mbah- mana peduli soal tanggal lahir. Yang diingat paling hanya pasaran hari lahir saja, semisal Senin Pahing, Rabu Legi dan sebagainya. Dan kalaupun mengingat tanggal, yang diingat adalah tanggal Hijriyah atau Jawa, bukan Masehi.

Soal usia Ibu, ya anggap saja record 1970 ataupun 1971 di KTP itu benar. Ibu bilang menikah dengan Bapak waktu usia Ibu sekitar 17 tahun. Dua atau tiga tahun berikutnya barulah Ibu melahirkan anak pertamanya, aku. Untuk menghitung umur Ibu kalau aku masih penasaran, tambahkan saja angka 20 dengan umurku yang sebenarnya, kalau umurku 20 tahun, berarti Ibu 40 tahun, begitu kata Ibu.

“Jadi Ibu nggak tahu tanggal lahir Ibu kapan?”

“Yang penting bersyukur sudah dilahirkan dan diberi umur panjang,” jawab Ibu sambil tersenyum.

“Tapi Ibu kan jadi ngga pernah ulang tahun…” aku berkeras.

“Memangnya kenapa? Ibu ada bersama dengan keluarga yang Ibu cintai. Hidup bersama kalian semua. Itu adalah kado terindah yang pernah Ibu dapat. Ya walau ngurus empat orang anak seperti kalian yang nyusahin banget itu ngga gampang…” Aku cemberut, Ibu tersenyum.

Benar. Tak penting tanggal berapa Ibu dilahirkan, kapan Ibu berulang tahun. Yang jelas Ibu ada untuk kami. Itu cukup.

Meski tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun padanya, meski tak pernah memberi kado sebagai peringatan hari kelahirannya, tak masalah.

Aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun kapan pun. Setiap hari kalau perlu. Begitu juga dengan kadonya. Karena setiap hari Ibu selalu ada untuk kami. Setiap hari aku selalu bisa melihatnya, mendengar suaranya, memeluknya. Dan untuk itu semua aku sangat berterima kasih.

Aku sayang Ibu…

-Hanik-

One thought on “Selamat ulang tahun, Ma!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s