Ibu – 1

“Ibu ngga pergi ke acara PKK?” tanyaku. Melihat Ibu yang sore ini hanya memakai daster, padahal setiap Minggu sore biasanya Ibu sudah berdandan cantik hendak pergi arisan PKK bersama ibu-ibu se-RT.

“Ngga,” jawab Ibu.

“Kenapa? Kan PKK-nya di rumah Bu Sumi.” Ibu sering merasa tak enak bila harus absen ke PKK di rumah tetangga yang jaraknya dekat dari rumah kami.

“Ibu malu ah sama Bu RT. Udah tiga kali belum bayar angsuran koperasi. Ntar kalo ada Bu Nani cari Ibu, kamu kasih uangnya ya. Kalo nanyain Ibu, bilang aja Ibu lagi pergi.” Ibu menyerahkan uang 20 ribu padaku, untuk bayar hutang Ibu minggu lalu ke Bu Nani.

Ibu masuk ke kamar. Duduk diam di atas tempat tidur. Aku diam menatapnya.

“Kenapa?” kali ini Ibu yang bertanya.

Aku hanya menggeleng.

“Kamu malu gara-gara Ibu ya? Ibu malu-maluin kan? Pasti orang-orang di PKK sekarang lagi pada ngomongin Ibu deh…”

“Ngga. Orang-orang bakal ngomongin Ibu karena hutang Ibu. Emang siapa mereka? Kalopun Ibu denger mereka ngomongin Ibu, biarin aja. Mereka ngga tahu apa-apa.”

Saat itu, ingin kurengkuh Ibu dalam pelukanku. Ingin menangisinya, mengasihaninya. Ibuku.

Lalu aku duduk diam di sampingnya. Dengan itu Ibu tahu aku akan selalu ada untuknya. Tak perlu aku menangisinya, mengasihaninya. Aku hanya harus selalu ada di sampingnya. Untuk tetap menjaganya kuat. Ibuku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s