Kamu? Nulis?

Hari Jum’at kemarin pas paket Dear Papa yang saya pesen sampe rumah, kan yang terima Ibu karena saya lagi di tempat kerja.

Semalam, Ibu tanya, “Jadi, kamu menang buku apa lagi?”

“Eh? Ngga menang apa-apa kok…”

“Lha terus, buku kemarin itu dari mana?” interogasi berlanjut.

“Beli.”

“Kamu beli?!” dalam kamus Ibu dan Bapak, beli buku itu buang-buang duit. Bukan karena menurut mereka beli buku itu ngga ada gunanya, tapi lebih pada alasan seperti ehm… duit itu bisa dipakai buat beli kebutuhan yang lebih premier seperti makan misalnya. Sedangkan dalam kamus saya, buku juga merupakan kebutuhan utama, meskipun jarang beli karena dana bulanan terbatas.

“Kenapa sih, Bu? Aku kan udah lama ngga beli buku…”

Terus saya jelasin kalau di buku Dear Papa itu ada tulisan surat saya buat Bapak. Dan surat itu diterbitkan! Jadi buku! Dan hukumnya wajib buat saya beli buku itu.

“Kamu dapat apa untuk tulisan itu?” Maksudnya saya dibayar ato ngga.

“Ngga dibayar, Bu. Semua hasil penjualan buku ini disumbangin ke yayasan. Ya, anggap saja beramal gitu…”

“Jadi kamu nulis?”

“Iya, Ibuku sayang…”

Mestinya soal saya nulis itu ngga usah ditanya deh. Semua orang di rumah itu tahu saya suka nulis. Saya nulis diary sejak kelas 3 SD. Bahkan Ibu itu baca diary saya — akhirnya saya belajar buat nulis dalam bahasa yang mereka ngga tahu.

Lalu saya jelasin soal saya nulis di blog ini… blah… blah… blah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s