Kota atau Pedesaan?

Kalau disuruh memilih kota atau pedesaan untuk tinggal, kamu akan memilih mana?

Sejak dilahirkan sampai sekarang, saya tinggal di desa yang sama, di RT yang sama, di lingkungan yang sama walau sudah 2 kali pindah rumah. Tapi tentu dulu dengan sekarang pasti beda dong. Banyak yang berubah.

Dulu sewaktu saya kecil, setiap kali nenek dan tante saya mudik dari Jakarta pasti yang selalu mereka bilang adalah, “Di sini enak, ya? Sejuk.” Setiap bangun pagi pasti jalan-jalan menghirup udara segar. Bapak akan selalu membangunkan saya pagi-pagi sekali dan keluar rumah, menyuruh saya mengikutinya menghirup oksigen sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya. Kemudian menyambut hangatnya mentari pagi. Saya sering mengeluh. Dan sekarang saya menyesal karena dulu tak sering melakukan ritual itu.

Setiap pulang sekolah atau saat hari libur, sesekali bermain di sungai. Dulu terdapat mata air dan saya mandi di situ! Beramai-ramai bersama warga kampung yang lain. Atau main ke kebun tetangga mengangkap capung.

Sekarang udah ngga bisa lagi. Air di sungai udah kotor karena limbah. Kebun tetangga itu juga sekarang udah jadi bangunan. Dan sinar mentari juga susah diraih karena terhalang bangunan-bangunan tinggi di sekitar rumah.

Tapi, saya senang tinggal di err-desa yang hampir menjadi kota ini. Saya tinggal di daerah yang strategis. Dekat dari mana aja. Pasar, masjid, segala macam toko, bank, apotik, sekolah, balai desa, kecamatan, warnet, semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kecuali mall itu belum ada. Dulu pernah dibangun one stop shopping gitu tapi ngga laku. Ha! Dan swalayan besar terdekat dari sini jaraknya 1 jam.

Terakhir kali saya ke kota yang bener-bener kota sebulan lalu, bohong banget kalau saya ngga terkagum-kagum. Saya berpikir pasti betapa lebih mudahnya tinggal di sana. Yang semuanya ada, yang mau apa pun bisa. Saya kepingin tinggal di situ. Sekali-sekali.

Namun kalau disuruh memilih, saya milih tinggal di pedesaan aja. Saya juga ingin membangunkan anak-anak saya pagi-pagi sekali. Menghirup oksigen bersih sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya. Memetik buah dan memanen sayuran yang ditanam sendiri. I hope, someday… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s