Aku, Kartini, dan Kebaya

Di sekolahku, setiap tanggal 21 April, setiap siswa putri diwajibkan berdandan cantik dan mengenakan kebaya. Mengikuti upaca bendera di pagi hari, setelah itu dilanjutkan dengan berbagai acara lomba. Lomba paduan suara, lomba masak, lomba peragaan busana, lomba-lomba yang masih ada kaitannya dengan anak perempuan dan Hari Kartini.

Sebagai siswa yang baik, aku akan dengan senang hati berpartisipasi dalam setiap lomba itu. Tapi dari mana aku dapatkan kebaya untuk dipakai di Hari Kartini? Punya seragam sekolah yang layak dipakai saja aku sudah bersyukur.

Sebagian besar temanku akan menyewa kebaya di salon rias pengantin sekalian didandani cantik layaknya putri Jawa. Sebagian sudah membeli atau memesan kebaya jauh-jauh hari. Dari mana akan kudapatkan kebaya untuk dipakai di Hari Kartini?

Kenapa harus merayakan Hari Kartini? Karena Kartini berjasa dalam emansipasi dan hak-hak wanita dan bla… bla… bla…

Maaf, Kartini, bukan aku menjelekkanmu. Aku mengidolakanmu, sungguh. Tapi kenapa mereka harus merayakan hari kelahiranmu dengan menyuruh anak perempuan memakai kebaya? Kau tahu, selain panas saat dipakai dalam upacara bendera, kebaya hari gini juga mahal! Apa intinya merayakan hari kelahiranmu dengan mengenakan pakaian dengan model sama sepertimu? Lagi pula maksud perjuanganmu tentu bukan agar semua wanita memakai kebaya di tanggal 21 April.

Kenapa tidak mengunjungi tempat di mana ari-arimu dikubur di Mayong sana? Atau kenapa tidak ziarah ke makammu di Rembang? Mendoakanmu, merenung dan berterima kasih padamu atas jasa-jasamu memperjuangkan kaummu.

Rasanya ingin membolos saja tanggal 21 April nanti. Tapi kata guruku, kalau ada siswa yang tidak mengikuti upacara bendera nanti akan dihukum. Dan teman-teman grup paduan suara akan memarahiku kalau aku tidak masuk. Kami sudah latihan berminggu-minggu untuk mengikuti lomba paduan suara. Kalau tidak ikut lomba maka sia-sia sudah latihan kami selama ini. Tapi kenapa harus mengenakan kebaya? Kartini, bagaimana menurutmu?

Aku mulai merengek, meminta, merajuk pada Ibu. Aku ingin kebaya untuk Hari Kartini. Aku ingin berdandan cantik. Pokoknya aku harus mengenakan kebaya di Hari Kartini.

Akhirnya Ibu membuatkan kebaya untukku. Tak tahu dari mana ia mendapatkan kain berwarna kuning itu. Ibu membuat pola kemudian mulai menjahitnya dengan tangan. Kami tidak punya mesin jahit. Semalaman Ibu menjahitnya dan pagi harinya aku sudah punya kebaya.

Aku siap merayakan Hari Kartini. Bermodalkan kain batik nenekku dan kebaya buatan Ibu. Ibu mendandaniku, menaburkan bedak ke wajahku, menorehkan lipstik merah terang di bibirku. Rambut panjangku digelung sederhana. Warna kulitku gelap, dan dengan dandanan seperti itu aku terlihat seperti memakai topeng. Tapi aku senang, senyum di wajah Ibu pun mengatakan demikian.

Teman-temanku berkata lain. Dandananku terlalu sederhana menurut mereka. Atau jelek. Jauh dari kata cantik. Grup paduan suaraku tidak jadi mengikutsertakan aku dalam lomba. Karena penampilanku yang hanya begini. Kebaya kuning polos tanpa payet ataupun brokat. Riasan bedak dan lipstik, tanpa eye shadow, eyeliner, bulu mata palsu maupun alis yang digambar. Penampilanku tidak menarik. Teman macam apa itu?

Kartini, aku belum pernah membaca satupun dari surat-suratmu yang diterbitkan dalam bentuk buku itu. Tapi aku bertanya-tanya apakah dalam suratmu kau pernah menulis bagaimana ulang tahunmu seharusnya diperingati? Kau mestinya menulis agar jangan ada seorang pun yang mengharuskan setiap anak perempuan memakai kebaya di Hari Kartini. Sebab bagiku, itu sama sekali bukanlah emansipasi wanita.

Tahun depan, aku akan bolos saja.

Jepara, 20/4/2012 1:53 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s