Menghibur Feri

Feri, adik saya yang paling kecil, itu lengket banget sama Ibu. Bukan tipe anak yang mudah ditinggal pergi-pergi sama ibunya. Ke pasar, ke warung, ke rumah saudara, rumah tetangga harus selalu ikut. Dan kalau dianya yang lagi ngga mood buat pergi, Ibu pun ngga boleh pergi ke mana-mana. Padahal ya, kalo keasyikan main aja pasti Ibu dilupain. 😀

Setiap Jumat sehabis maghrib, Ibu mengikuti pengajian ibu-ibu sekampung. Di sinilah drama dimulai setiap malam. Diawali dengan, “Ibu, mau ke mana?” “Aku ngga ada temennya di rumah.” (Alesan, padahal ya ada Bapak, Mbak Hanik sama Mas Yasir) “Malam ini ngga usah berangkat, minggu depan aja.” Kemudian diakhiri dengan ngambek atau nangis sampai Ibu pulang.

Ya, kalau dia lagi bagus moodnya ngga segitunya sih. Paling dikasih duit 2.000 rupiah Ibunya sudah dilepas. 😀

Jumat malam, jam yang sama, drama yang sama.

Saya kebetulan lagi pinjem kamera kantor buat dibawa pulang. Feri loves camera. Dia juga suka difoto. Jadi saya bilang, “Ambil foto keluarga, yuk! Feri, Ibu sama Bapak. Ayo pose…” Tapinya, Feri ndak mau difoto. Lagi ngambek ceritanya. Dia bahkan ngga mau liat ke kamera!

Bodo amat, jepret aja!

PIC

Tapi dia ngga nangis atau merengek sampai Ibu saya pulang. Akhirnya dia pinjam itu kamera sampai baterainya habis… 🙂

One thought on “Menghibur Feri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s