Kado Untuk Istri

Hari ini aku menyaksikan sesuatu yang so sweet, dilakukan oleh suami untuk istrinya.

Seorang bapak-bapak datang ke toko kami.
“Mas, saya mau jahitin baju. Ini contohnya. Bikin model dan ukuran sama, ya?” kata si bapak sambil menyerahkan kain dan contoh baju.

“Oh, baju wanita ya?”

“Iya, bajunya istri saya.” jawab si bapak.

Setelah baju diukur dan menerima nota tagihan, si bapak tanya jadinya berapa lama.

“Tiga minggu ya, pak. Pertengahan Mei. Antrian jahitannya banyak soalnya.”

“Wah, lama ya. Bisa dijadiin sebelum tanggal 2, mas? Istri saya ulang tahun hari itu. Mau bikin surprise ceritanya.”

Ngga pernah kepikiran aja idenya si bapak ini. Beli kain, pinjam baju istrinya barang berapa jam, dibawa ke penjahit buat dibikinin baju baru untuk kado ulang tahun.

Because this kind of thing is what usually me or my mom would do to my dad or my brothers. Itu pun bukan buat kado ulang tahun, tapi buat baju lebaran.

Si mas menjawab, “Yaudah pak, saya usahakan tanggal 28 bisa jadi ya.”

“Nah, gitu dong. Saya ambil nanti tanggal 28 ya mas.” Si bapak pun pamit.

Now boys, kalo bingung mesti kasih surprise kado apa saat ultah pacar/istri, mungkin cara seperti bapak ini bisa dijadikan alternatif.
Just make sure you pick her most favorite clothes/dress/blouse biar kalo udah jadi tetep dipake…

Ratu Tawar

Hari Minggu kemarin aku sama Feri diajak Ibu liburan ke Jogja bareng rombongan ibu-ibu PKK RT 13. Kami berangkat dari Jepara jam 6 pagi, naik bus pariwisata Putra Jepara (recommended, tempat duduknya nyaman, ngga sempit, kru-nya friendly, dan perjalanan kami juga menyenangkan).

Tujuan liburan kali ini ke Taman Kyai Langgeng di Magelang, lanjut ke Pantai Parangtritis, trus malamnya ke Malioboro.

Mumpung lagi di Jogja, malamnya Ghofar nyusul kami di Malioboro. Jadilah jalan-jalannya berempat. Sayangnya ngga ada Yasir sama Bapak. Semoga di lain waktu bisa liburan sekeluarga.

Aku dapat titipan dari teman-teman di rumah buat belanja baju, kaos, & souvenir khas Jogja. Beruntung ada Ibu, yang sangat tega kalo soal tawar menawar harga. Seneng sih dibantuin nawar barang, tapi ya itu lama banget saking pengennya dapat harga murah.

Adegan 1
Hanik: Bu, ini gelangnya berapa?
Penjual: 10 ribu dapat 3, mbak.
Hanik: 4 ya, bu?
Penjual: *langsung dikasih*
Ibu: Ck! Kemahalan itu, mestinya bisa dapat 5.

Tapi gelang 10 ribu dapat 4 mestinya udah murah kan? Iya kan??

Adegan 2
Ghofar: Mas, berapa harganya?
Penjual: 45, mas.
Ghofar: 40 ya?
Si mas penjualnya ngga denger.
Ibu: *melototin Ghofar* 25, mas.
Penjual: Ngga boleh, Bu. Pas-nya 35.
Ghofar: Yaudahlah kasih aja, biar cepet.
Ibu: Ih, ngga usah. Pindah aja yuk cari yang lain.
Ghofar:*capek*

Adegan 3
Hanik: Bajunya berapa, Bu?
Penjual: 40, mbak.
Ibu: *sambil bisik-bisik* minta 40 dua.
Hanik: 40 ribu dapat 2 ya, Bu.
Penjual: Ngga boleh, mbak. 35 satu deh.
Ibu: Yaudah yuk pindah. *mlipir*

Padahal itu udah pindah 2 toko, dan aku capek… T^T

Penjual: Mbak! Mbak! Sini deh, Mbak!
Ibu: *tersenyum penuh kemenangan*

Gitu terus sampe semua barang yang mau dibeli didapet. Emang sih harus pinter-pinter nawar dengan harga serendahnya. Dan ternyata juga emang pasti bisa dapat dengan harga yang diinginkan.

Aku pernah baca tips tentang menawar barang di tempat wisata yaitu kita mesti konsisten sama harga yang mau kita tawar. Misal mau nawar jadi 20 ribu, tetaplah 20 ribu walau penjualnya nurunin harga sedikit demi sedikit. Jangan nyerah sampai di harga 20 ribu itu tadi. Kalo tetep ngga boleh, pindah. Kalo ternyata harga yang kita tawar itu masih bisa masuk, penjualnya pasti bakal manggil-manggil kita buat balik. Hihihi…

Dan ya, tips itu ada benarnya sih, karena itu yang Ibu lakukan di Malioboro dan berhasil.

Trus karena udah capek, balik ke bus. Tapi Feri minta dibeliin tas, jadi diantar aja sama Ghofar. “Jangan lupa ditawar!” kata Ibu. Dan akhirnya dapat harga 35 ribu saja.

Eits… Pas udah perjalanan pulang di bus, Ibu nanya sama Feri, “Tadi tasnya harga berapa aslinya, Fer?” Feri jawab, “40 ribu. Mas Ghofar nawar jadi 35.” Hahaha… Ya jelas kemahalan kalo menurut Ibu sih…

Dilema Seorang Penumpang Bus

Saya adalah seseorang yang selama kurang lebih 5 tahun bekerja, terpaksa setia menggunakan transportasi umum berupa bus. Berangkat dan pulang di waktu yang sama. Naik dan berhenti di tempat yang sama. Seringnya naik bus yang itu-itu saja padahal di Jepara kan banyak bus.

Salah satu syarat bus layak untuk ditumpangi bagi saya adalah busnya ngga suka ngetem. Yakali naik bus yang ngetem nyampe kantor ya langsung suruh pulang lagi. Itu berlaku kalo pas berangkat sih. Kalo pas pulangnya sih ya terserah deh asal jangan mogok aja.

Pulangnya, saya lebih milih bus yang ngga terlalu sesak. Kalo bisa yang masih ada tempat duduknya. Pilih-pilih banget ya… hehe…

Saking setianya menggunakan transportasi bus ini nih, ada beberapa supir dan kernet bus yang pasti juga hafal bahkan kenal sama penumpang langganannya. Yang dimaksud hafal adalah, kamu berdiri di jalan nunggu bus tanpa tangannya melambai-lambai pun bus-nya udah pasti berhenti. Bayar pake duit puluhan ribu pasti dikasih kembalian yang semestinya tanpa harus bilang tujuan kamu. Yah, pokoknya gitu lah.

Paling pusing adalah, saat ada dua bus yang berhenti di halte dan tujuannya sama, dua-duanya adalah bus langganan, supir dan kernetnya sama-sama baik jadi bingung mau pilih yang mana.

Kernet 1: Monggo, Mbak, silakan naik… langsung duduk… masih kosong… masih kosong…
Kernet 2: Ayo, Mbak! Bus depan, masih kosong… Mbak-nya biasa ikut kok… Turun depan mesjid kan?

Duh! Disaat seperti ini yang saya lakukan adalah menghindari kontak mata dan langsung masuk ke bus terdekat. Yang mana aja terserah deh.

Dan kenapa ya saya selalu merasa bersalah sama bus yang satunya yang ngga saya naikin? I mean, it’s not like I was cheating on my boyfriend, right?

Huft… ya saya kan ngga bisa naik 2 bus sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Masih banyak penumpang di jalan kok… 😀

Daily Prompt: BFFs

blair-and-serena

What’s the most important lesson you’ve learned from the person you’re the closest to?

Saya jadi tahu bahwa di dunia ini ada orang yang jauh lebih pendiam dan lebih anteng lempeng kalem ketimbang saya, yaitu Mba Dewi.

Teman saya si tomboy hitam manis, bikin saya sadar bahwa setiap orang punya masalah masing-masing. Masalah sepele sampai soal hidup dan mati.

Dengan Lia, sangat mungkin bahwa bisa lho berteman atau sahabatan tanpa harus berantem. 😀

Vivo mengajarkan saya bahwa ngga ada yang namanya pelajaran susah di sekolah asalkan kita mau belajar. Dan di dunia ini ngga ada yang ngga mungkin asal kita mau berusaha.

Dari teman-teman saya belajar make up. Belajar move on. Belajar nulis. Belajar jadi manusia yang baik dan benar.

I learned to be bold and stand up for myself.

Begitu banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman dan kisah hidup mereka. Tapi apa mereka juga belajar dari saya? Kalau iya, kira-kira apa ya pelajaran yang mereka dapatkan?

Quote #14

Hate no one, no matter how much they’ve wronged you.

Live humbly, no matter how wealthy you become.

Think positively, no matter how hard life is.

Give much, even if you’ve been given little.

Keep in touch with the ones who have forgotten you, and forgive those who have wronged you, and do not stop praying for the best for those who love you.

-Ali Ibn Abi Thalib RA-

Daily Prompt: Google and Rescue Operation

What was the last thing you searched for online? Why were you looking for it?

Beberapa minggu lalu saya selesai membaca novel terakhir yang saya beli, Larung. Perasaan saya masih campur aduk ketika mengetahui akhir ceritanya. Sampe sekarang mau bikin review-nya juga belum terlaksana. Ibaratnya perasaan saya masih terguncang. *halah* :p

Dan saya mulai baca ulang novel itu. Mencoba memahami lagi setiap karakternya, terutama Larung. Tentang dirinya yang ingin neneknya mati karena menurutnya memang sudah saatnya si nenek mati.

Di dalam cerita kalau tidak salah Larung berkata, “Ibu bilang aku gila karena aku minum haloperidol.”

Itulah kata terakhir yang saya googling kemarin: haloperidol.

Jadi ya begitulah. Mungkin Larung memang tidak waras, tapi juga terlalu cerdas untuk dibilang tidak waras. Entahlah, jadi makin bingung… 😐

Don’t Judge a Book By Its Cover

Salah satu resolusi saya tahun 2013 ini adalah beli buku lebih banyak ketimbang tahun kemarin. Seingat saya, tahun 2012 saya ngga beli buku apapun… T^T

Di bulan ke-sembilan tahun ini akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama. 😀

Minggu lalu di Kutukutubuku.com lagi ada promo buku Larung karya Ayu Utami. Tanpa pikir panjang mumpung masih ada saldo di tabungan, saya pesan aja. Lumayan kan diskon 15% hehe…

Saya belum pernah baca buku Ayu Utami. Saya putuskan beli karena saya suka penulisnya dan pikir saya kalo ngga beli sekarang trus kapan lagi? Saya sama sekali ngga tau buku ini ceritanya tentang apa. Baca sinopsisnya pun belum pernah.

Pas tadi sore saya pulang dan mendapati paket saya sudah sampai, dengan gembira di depan Ibu saya buka pembungkusnya dan mendapati cover Larung yang… jeng… jeng…

Larung

Larung

Saya langsung kabur ke kamar sebelum Ibu sempat melihat.

Kita memang tidak seharusnya menilai buku berdasarkan sampulnya, tapi Bapak dan Ibu jelas akan menilai buku ini berdasarkan sampulnya. Mereka ngga akan percaya kalau saya bilang ini adalah novel sastra. Tapi usia saya 23 tahun dan jelas aya boleh baca apa aja kan? 😀

Setelah saya baca beberapa halaman, buku ini memang harus saya simpan hati-hati jangan sampai si nomer 3 dan 4 baca. Karena belum saatnya buat mereka baca buku ini hahaha…

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah pikir-pikir dulu sebelum beli buku, karena buku apapun yang saya baca, adik-adik saya juga pasti baca. I was desperately need something to read and I love Ayu Utami, jadi ya mau gimana lagi. 🙂