Dilema Seorang Penumpang Bus

Saya adalah seseorang yang selama kurang lebih 5 tahun bekerja, terpaksa setia menggunakan transportasi umum berupa bus. Berangkat dan pulang di waktu yang sama. Naik dan berhenti di tempat yang sama. Seringnya naik bus yang itu-itu saja padahal di Jepara kan banyak bus.

Salah satu syarat bus layak untuk ditumpangi bagi saya adalah busnya ngga suka ngetem. Yakali naik bus yang ngetem nyampe kantor ya langsung suruh pulang lagi. Itu berlaku kalo pas berangkat sih. Kalo pas pulangnya sih ya terserah deh asal jangan mogok aja.

Pulangnya, saya lebih milih bus yang ngga terlalu sesak. Kalo bisa yang masih ada tempat duduknya. Pilih-pilih banget ya… hehe…

Saking setianya menggunakan transportasi bus ini nih, ada beberapa supir dan kernet bus yang pasti juga hafal bahkan kenal sama penumpang langganannya. Yang dimaksud hafal adalah, kamu berdiri di jalan nunggu bus tanpa tangannya melambai-lambai pun bus-nya udah pasti berhenti. Bayar pake duit puluhan ribu pasti dikasih kembalian yang semestinya tanpa harus bilang tujuan kamu. Yah, pokoknya gitu lah.

Paling pusing adalah, saat ada dua bus yang berhenti di halte dan tujuannya sama, dua-duanya adalah bus langganan, supir dan kernetnya sama-sama baik jadi bingung mau pilih yang mana.

Kernet 1: Monggo, Mbak, silakan naik… langsung duduk… masih kosong… masih kosong…
Kernet 2: Ayo, Mbak! Bus depan, masih kosong… Mbak-nya biasa ikut kok… Turun depan mesjid kan?

Duh! Disaat seperti ini yang saya lakukan adalah menghindari kontak mata dan langsung masuk ke bus terdekat. Yang mana aja terserah deh.

Dan kenapa ya saya selalu merasa bersalah sama bus yang satunya yang ngga saya naikin? I mean, it’s not like I was cheating on my boyfriend, right?

Huft… ya saya kan ngga bisa naik 2 bus sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Masih banyak penumpang di jalan kok… 😀

Daily Prompt: BFFs

blair-and-serena

What’s the most important lesson you’ve learned from the person you’re the closest to?

Saya jadi tahu bahwa di dunia ini ada orang yang jauh lebih pendiam dan lebih anteng lempeng kalem ketimbang saya, yaitu Mba Dewi.

Teman saya si tomboy hitam manis, bikin saya sadar bahwa setiap orang punya masalah masing-masing. Masalah sepele sampai soal hidup dan mati.

Dengan Lia, sangat mungkin bahwa bisa lho berteman atau sahabatan tanpa harus berantem. 😀

Vivo mengajarkan saya bahwa ngga ada yang namanya pelajaran susah di sekolah asalkan kita mau belajar. Dan di dunia ini ngga ada yang ngga mungkin asal kita mau berusaha.

Dari teman-teman saya belajar make up. Belajar move on. Belajar nulis. Belajar jadi manusia yang baik dan benar.

I learned to be bold and stand up for myself.

Begitu banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman dan kisah hidup mereka. Tapi apa mereka juga belajar dari saya? Kalau iya, kira-kira apa ya pelajaran yang mereka dapatkan?

Don’t Judge a Book By Its Cover

Salah satu resolusi saya tahun 2013 ini adalah beli buku lebih banyak ketimbang tahun kemarin. Seingat saya, tahun 2012 saya ngga beli buku apapun… T^T

Di bulan ke-sembilan tahun ini akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama. 😀

Minggu lalu di Kutukutubuku.com lagi ada promo buku Larung karya Ayu Utami. Tanpa pikir panjang mumpung masih ada saldo di tabungan, saya pesan aja. Lumayan kan diskon 15% hehe…

Saya belum pernah baca buku Ayu Utami. Saya putuskan beli karena saya suka penulisnya dan pikir saya kalo ngga beli sekarang trus kapan lagi? Saya sama sekali ngga tau buku ini ceritanya tentang apa. Baca sinopsisnya pun belum pernah.

Pas tadi sore saya pulang dan mendapati paket saya sudah sampai, dengan gembira di depan Ibu saya buka pembungkusnya dan mendapati cover Larung yang… jeng… jeng…

Larung

Larung

Saya langsung kabur ke kamar sebelum Ibu sempat melihat.

Kita memang tidak seharusnya menilai buku berdasarkan sampulnya, tapi Bapak dan Ibu jelas akan menilai buku ini berdasarkan sampulnya. Mereka ngga akan percaya kalau saya bilang ini adalah novel sastra. Tapi usia saya 23 tahun dan jelas aya boleh baca apa aja kan? 😀

Setelah saya baca beberapa halaman, buku ini memang harus saya simpan hati-hati jangan sampai si nomer 3 dan 4 baca. Karena belum saatnya buat mereka baca buku ini hahaha…

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah pikir-pikir dulu sebelum beli buku, karena buku apapun yang saya baca, adik-adik saya juga pasti baca. I was desperately need something to read and I love Ayu Utami, jadi ya mau gimana lagi. 🙂

Ramadhan Highlight

smiley

Illustration by Munira

Halo semuanya… Apa kabar?

Sebulan lebih ngga ada tulisan di blog ini ya, saya emang rajin banget. Rajin ngga nulis. :mrgreen:

Kita udah menginjak Ramadhan hari ke 25 ya. Ngga kerasa banget bentar lagi pisah… Huhuhu…

Ramadhan itu saat yang paling ditunggu-tunggu umat muslim sedunia. I love Ramadhan. Siapa yang ngga suka coba? Jadi di sini saya mau cerita apa aja yang sudah saya alami selama Ramadhan tahun ini.

Hari pertama Ramadhan dikejutkan dengan kabar duka seorang teman yang telah berpulang kepada-Nya. Dia sudah berjuang melawan sakitnya selama beberapa bulan terakhir. Kami ngga saling kenal memang. Saya cuma tahu dia, tahu namanya. Tapi tetep aja ngerasa sedih dengan kepergiannya. He was so young…

Di tengah kegembiraan Ramadhan beberapa hari kemudian, seorang saudara juga pergi meninggalkan kami untuk selamanya.

Semoga kalian berada di tempat terbaik di sisi-Nya.

Project yang bikin stress tujuh turunan itu akhirnya selesai juga. Alhamdulillah. Tinggal menunggu hasilnya. 🙂

Saya dihadapkan pada satu masalah. Hasil dari perbuatan sendiri memang. Yang dari kemarin-kemarin terus saja saya hindari. Terus saya cuekin, karena kalo dipikirin bikin pusing. Tapi masalah kan menunggu untuk diselesaikan ya. Ada batas waktunya juga yaitu hari ini. Makin stress ngga tuh?

Alhamdulillah banget, tadi malam masalah terselesaikan begitu saja. Poof! Udah selesai ngga pake ribet. All thanks to Allah, and my good-hearted uncle Dhe To. I don’t know what I’d do without this man.

Ma’e, you raised a highly great man! Thank you!

I hope he doesn’t mad at me for this trouble. I have a reason why I did that.

Ah, saya selalu suka Ramadhan dan tahun ini juga ngga berbeda kok. Rejeki rasanya diberikan berkali-kali lipat sama Allah. :’)

Ada satu keinginan saya yang belum bisa saya dapatkan padahal saya sudah menginginkannya sejak Ramadhan tahun lalu. Tahun lalu saya kecewa banget karena doa saya belum dikabulkan. Tahun ini pun doa saya masih sama, agar saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Logikanya sih 100% ngga bisa dapat juga. Duit dari mana coba?

Tapi sekarang rasanya ngga apa-apa kok kalau ngga ada. Saya mengerti bahwa itu bukan yang terpenting untuk saat ini. Terdapat perbedaan dalam menyikapi keadaan yang sama setelah satu tahun. Mungkin saya lebih dewasa. *memuji diri sendiri*

Begitulah Ramadhan saya sampai hari ini. I’m happy walau belum terima THR. Walaupun belum tahu kapan bisa libur. *lirik Pak Bos*

Semangat ya, tinggal 5 hari lagi! Semoga kita semua mendapat setiap kebaikan yang ada di bulan Ramadhan. 🙂

High School Reunion

Last Sunday my high school held a reunion for its graduates. Everyone from class of 1987 – 2012 were invited. I decided to come not for the sake of the event but just to meet my friends. Turned out the event was kind of flat and meh so I didn’t enter the main hall where the ceremony was held. 😀

Instead I joined Vivo in her cosmetic booth and enjoyed some chit chat with the girls, and selling some beauty products. Hehehe. I was happy to meet my friends and former teachers. Sadly, I couldn’t meet my favorite English teacher who’s also my homeroom teacher because she doesn’t teach in this school anymore.

This is what I wore:

The bag belongs to Vivo.

The bag belongs to Vivo.

At night in the same day was Malam Nisfu Sya’ban. At Kalinyamatan an event called Pesta Lampion was held. It was like a lantern parade where the kids from local schools participated. There was also theater groups represented historical story of Sultan Hadlirin and Ratu Kalinyamat.

Most people were enthusiast to watch the parade just the see the pretty girl who portrayed Ratu Kalinyamat. For me, the girl who portrayed Ratu Kalinyamat this year was pretty. So pretty she looked scary and gave me chilling gosebumps just by looking at her. Don’t get me wrong, Ratu Kalinyamat was a woman of courage, and I think the pretty girl portrayed the queen so well. Bravo to the make up artist.

Now if only I could watch a sageuk-like drama of Ratu Kalinyamat and Sultan Hadlirin…

Hadir di Pernikahan Mantan, Yes or No?

Beberapa bulan ini banyak dapat undangan pernikahan dari teman-teman saya. Di antara undangan-undangan tersebut ada salah dua undangan dari teman saya yang dulunya sepasang kekasih. Dulu saya pikir hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. They were so in love, and they looked so good together. Tapi ya kalo bukan jodoh mau diapain lagi?

Si cewek (panggil saja Putri) melangsungkan pernikahan sebulan sebelum pernikahan si cowok (sebut saja Putra). Keduanya saling mengundang satu sama lain walaupun ngga mengharapkan kehadiran yang diundang juga. Datang ya syukur, ngga datang ya ngga apa-apa… 😀

Dan Putra datang ke pernikahan Putri. Semua mata memandang dan menahan nafas dalam suasana canggung saat Putra memberi selamat pada Putri.

Hal yang sama juga harus dilalui Putri saat datang ke pernikahan Putra. Parahnya, suaminya Putri ngambek dan Putri ngga boleh lama-lama di acara malam itu. Aw, mestinya ngga usah gitu lah ya. She’s yours now, jadi buat apa ngambek. Hahaha…

Setelah jadi saksi hidup ‘the awkward moment’ dua mantan ini, saya berharap semoga saya ngga akan pernah mengalaminya.

Bingung mau kasih undangan atau ngga. Kalau diundang ntar dianya mau datang ngga ya? Kalau ngga diundang ntar dikira benci sama dia. Masa teman-teman yang lain diundang terus dia ngga diundang. Sebelum pacaran kan kita juga berteman.

Bingungnya saat akan memutuskan mau datang atau ngga. Kalau datang ntar malu dan canggung. Kalau ngga datang ntar dibilang sombong dan ngga mau berteman atau dipikir masih menyimpan perasaan suka.

Ah, kok saya jadi ikutan bingung sendiri… 🙂

Tukang Amplas

Oh, I miss my blog so much. Sorry for my lack of update. I’m busy and stressed with a project. Pusing kenapa ngga selesai juga dan susah banget ngerjainnya. Hiks…

Anyway, tadi pagi berangkat kerja seperti biasa, naik bus, duduk di samping pak supir yang sudah hafal sama penumpang regulernya ini.

Pas udah mau sampai terminal, pak supir tanya, “Sampean ngamplas di mana, Mbak?”

Lah? Saya bengong sebentar lalu menjelaskan, “Saya staf kantor, Pak. Sekretaris.”

Tapi saking bisingnya suara mesin dan jalan raya, pak supir yang sepertinya ngga dengar penjelasan saya melanjutkan, “Udah lama di situ? Kenapa ngga pindah aja ke pabrik yang lebih dekat?”

“Hehe… iya, udah hampir lima tahun,” jawab saya.

“Wah, udah lama ya. Gajinya per hari berapa?” tanya pak supir. Tentu saja yang dimaksud gaji saya yang dikiranya sebagai tukang amplas. Karyawan bagian produksi gajinya biasanya dihitung per hari, dibayarkan setiap minggu. Jujur saya ngga tahu berapa gaji mereka.

Saya jawab aja kalo saya digaji tiap bulan.

Dalam hati saya pikir percakapan ini lucu banget dan berusaha biar ngga tertawa di depan pak supir.

Saya juga makin ogah meralat asumsi pak supir tentang pekerjaan saya. Biarlah dia pikir saya ini mbak-mbak tukang amplas. Toh apa salahnya dengan tukang amplas? Tanpa tukang amplas, meja, kursi, dan perabot dari kayu lainnya ngga bakalan mulus permukaannya dan pasti ngga nyaman digunakan. Tanpa tukang amplas, barang juga jelek pasti kalo difinish.

Menjura buat para tukang amplas. 😀

Oke, sampai di sini ngga tahu mau nulis apa lagi. Resah gelisah banget nih rasanya, dag dig dug ngga karuan. Worrying gets you nowhere. I know.

Apa yang biasa kamu lakukan kalo lagi stres? T^T