Banyak Setan

Image by John Schwegel

Selasa, 6 Agustus 2013

Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan saya masih di Kudus, menikmati segelas susu coklat di warung lesehan bersama teman-teman saya. Saya sendiri ngga ngerti kenapa mau buka puasa aja mesti pilih tempat di Kudus. Tapi ya udahlah, yang penting kebersamaan. 🙂

Jujur, saya ngga pernah menghabiskan waktu di luar rumah selarut itu. Paling jam 9 malam udah ngandang. Kecuali kalo kerja lembur, itu beda lagi.

Pukul 21.32 saya terima sms dari Bapak:

PULANG, NDUK. WES MALAM, BANYAK SETAN.

Iya sih, Bapak, udah malam. Tapi kalo bulan Ramadhan katanya setannya dikurung semua. Hehe…

Akhirnya saya cuma balas:

Nggih, Bapak…

Seketika itu juga kami pulang dan saya tiba di rumah satu jam kemudian.

Ramadhan Highlight

smiley

Illustration by Munira

Halo semuanya… Apa kabar?

Sebulan lebih ngga ada tulisan di blog ini ya, saya emang rajin banget. Rajin ngga nulis. :mrgreen:

Kita udah menginjak Ramadhan hari ke 25 ya. Ngga kerasa banget bentar lagi pisah… Huhuhu…

Ramadhan itu saat yang paling ditunggu-tunggu umat muslim sedunia. I love Ramadhan. Siapa yang ngga suka coba? Jadi di sini saya mau cerita apa aja yang sudah saya alami selama Ramadhan tahun ini.

Hari pertama Ramadhan dikejutkan dengan kabar duka seorang teman yang telah berpulang kepada-Nya. Dia sudah berjuang melawan sakitnya selama beberapa bulan terakhir. Kami ngga saling kenal memang. Saya cuma tahu dia, tahu namanya. Tapi tetep aja ngerasa sedih dengan kepergiannya. He was so young…

Di tengah kegembiraan Ramadhan beberapa hari kemudian, seorang saudara juga pergi meninggalkan kami untuk selamanya.

Semoga kalian berada di tempat terbaik di sisi-Nya.

Project yang bikin stress tujuh turunan itu akhirnya selesai juga. Alhamdulillah. Tinggal menunggu hasilnya. 🙂

Saya dihadapkan pada satu masalah. Hasil dari perbuatan sendiri memang. Yang dari kemarin-kemarin terus saja saya hindari. Terus saya cuekin, karena kalo dipikirin bikin pusing. Tapi masalah kan menunggu untuk diselesaikan ya. Ada batas waktunya juga yaitu hari ini. Makin stress ngga tuh?

Alhamdulillah banget, tadi malam masalah terselesaikan begitu saja. Poof! Udah selesai ngga pake ribet. All thanks to Allah, and my good-hearted uncle Dhe To. I don’t know what I’d do without this man.

Ma’e, you raised a highly great man! Thank you!

I hope he doesn’t mad at me for this trouble. I have a reason why I did that.

Ah, saya selalu suka Ramadhan dan tahun ini juga ngga berbeda kok. Rejeki rasanya diberikan berkali-kali lipat sama Allah. :’)

Ada satu keinginan saya yang belum bisa saya dapatkan padahal saya sudah menginginkannya sejak Ramadhan tahun lalu. Tahun lalu saya kecewa banget karena doa saya belum dikabulkan. Tahun ini pun doa saya masih sama, agar saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Logikanya sih 100% ngga bisa dapat juga. Duit dari mana coba?

Tapi sekarang rasanya ngga apa-apa kok kalau ngga ada. Saya mengerti bahwa itu bukan yang terpenting untuk saat ini. Terdapat perbedaan dalam menyikapi keadaan yang sama setelah satu tahun. Mungkin saya lebih dewasa. *memuji diri sendiri*

Begitulah Ramadhan saya sampai hari ini. I’m happy walau belum terima THR. Walaupun belum tahu kapan bisa libur. *lirik Pak Bos*

Semangat ya, tinggal 5 hari lagi! Semoga kita semua mendapat setiap kebaikan yang ada di bulan Ramadhan. 🙂

High School Reunion

Last Sunday my high school held a reunion for its graduates. Everyone from class of 1987 – 2012 were invited. I decided to come not for the sake of the event but just to meet my friends. Turned out the event was kind of flat and meh so I didn’t enter the main hall where the ceremony was held. 😀

Instead I joined Vivo in her cosmetic booth and enjoyed some chit chat with the girls, and selling some beauty products. Hehehe. I was happy to meet my friends and former teachers. Sadly, I couldn’t meet my favorite English teacher who’s also my homeroom teacher because she doesn’t teach in this school anymore.

This is what I wore:

The bag belongs to Vivo.

The bag belongs to Vivo.

At night in the same day was Malam Nisfu Sya’ban. At Kalinyamatan an event called Pesta Lampion was held. It was like a lantern parade where the kids from local schools participated. There was also theater groups represented historical story of Sultan Hadlirin and Ratu Kalinyamat.

Most people were enthusiast to watch the parade just the see the pretty girl who portrayed Ratu Kalinyamat. For me, the girl who portrayed Ratu Kalinyamat this year was pretty. So pretty she looked scary and gave me chilling gosebumps just by looking at her. Don’t get me wrong, Ratu Kalinyamat was a woman of courage, and I think the pretty girl portrayed the queen so well. Bravo to the make up artist.

Now if only I could watch a sageuk-like drama of Ratu Kalinyamat and Sultan Hadlirin…

Hadir di Pernikahan Mantan, Yes or No?

Beberapa bulan ini banyak dapat undangan pernikahan dari teman-teman saya. Di antara undangan-undangan tersebut ada salah dua undangan dari teman saya yang dulunya sepasang kekasih. Dulu saya pikir hubungan mereka akan berakhir di pelaminan. They were so in love, and they looked so good together. Tapi ya kalo bukan jodoh mau diapain lagi?

Si cewek (panggil saja Putri) melangsungkan pernikahan sebulan sebelum pernikahan si cowok (sebut saja Putra). Keduanya saling mengundang satu sama lain walaupun ngga mengharapkan kehadiran yang diundang juga. Datang ya syukur, ngga datang ya ngga apa-apa… 😀

Dan Putra datang ke pernikahan Putri. Semua mata memandang dan menahan nafas dalam suasana canggung saat Putra memberi selamat pada Putri.

Hal yang sama juga harus dilalui Putri saat datang ke pernikahan Putra. Parahnya, suaminya Putri ngambek dan Putri ngga boleh lama-lama di acara malam itu. Aw, mestinya ngga usah gitu lah ya. She’s yours now, jadi buat apa ngambek. Hahaha…

Setelah jadi saksi hidup ‘the awkward moment’ dua mantan ini, saya berharap semoga saya ngga akan pernah mengalaminya.

Bingung mau kasih undangan atau ngga. Kalau diundang ntar dianya mau datang ngga ya? Kalau ngga diundang ntar dikira benci sama dia. Masa teman-teman yang lain diundang terus dia ngga diundang. Sebelum pacaran kan kita juga berteman.

Bingungnya saat akan memutuskan mau datang atau ngga. Kalau datang ntar malu dan canggung. Kalau ngga datang ntar dibilang sombong dan ngga mau berteman atau dipikir masih menyimpan perasaan suka.

Ah, kok saya jadi ikutan bingung sendiri… 🙂

Tukang Amplas

Oh, I miss my blog so much. Sorry for my lack of update. I’m busy and stressed with a project. Pusing kenapa ngga selesai juga dan susah banget ngerjainnya. Hiks…

Anyway, tadi pagi berangkat kerja seperti biasa, naik bus, duduk di samping pak supir yang sudah hafal sama penumpang regulernya ini.

Pas udah mau sampai terminal, pak supir tanya, “Sampean ngamplas di mana, Mbak?”

Lah? Saya bengong sebentar lalu menjelaskan, “Saya staf kantor, Pak. Sekretaris.”

Tapi saking bisingnya suara mesin dan jalan raya, pak supir yang sepertinya ngga dengar penjelasan saya melanjutkan, “Udah lama di situ? Kenapa ngga pindah aja ke pabrik yang lebih dekat?”

“Hehe… iya, udah hampir lima tahun,” jawab saya.

“Wah, udah lama ya. Gajinya per hari berapa?” tanya pak supir. Tentu saja yang dimaksud gaji saya yang dikiranya sebagai tukang amplas. Karyawan bagian produksi gajinya biasanya dihitung per hari, dibayarkan setiap minggu. Jujur saya ngga tahu berapa gaji mereka.

Saya jawab aja kalo saya digaji tiap bulan.

Dalam hati saya pikir percakapan ini lucu banget dan berusaha biar ngga tertawa di depan pak supir.

Saya juga makin ogah meralat asumsi pak supir tentang pekerjaan saya. Biarlah dia pikir saya ini mbak-mbak tukang amplas. Toh apa salahnya dengan tukang amplas? Tanpa tukang amplas, meja, kursi, dan perabot dari kayu lainnya ngga bakalan mulus permukaannya dan pasti ngga nyaman digunakan. Tanpa tukang amplas, barang juga jelek pasti kalo difinish.

Menjura buat para tukang amplas. 😀

Oke, sampai di sini ngga tahu mau nulis apa lagi. Resah gelisah banget nih rasanya, dag dig dug ngga karuan. Worrying gets you nowhere. I know.

Apa yang biasa kamu lakukan kalo lagi stres? T^T

Hari Tanpa Mengeluh

Cobalah jalani satu hari aja tanpa mengeluh, dan lihatlah perbedaannya pada diri kamu.

Kira-kira begitulah quote yang pernah saya baca, entah di mana. Pernahkah kamu sehari aja, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, ngga mengeluh tentang hal sekecil apapun?

Kalo buat saya sepertinya tiada hari tanpa mengeluh sih… hehe… 😀

Ngaku deh, entah itu karena panas, hujan, bus yang jalannya saingan sama kura-kura, bus yang penumpangnya berdesakan, pulang kesorean, rebutan channel tv sama Feri, dan masih banyak lagi. Keliatan banget ya saya tukang mengeluh… 😐

Ya habis kalo ngga mengeluh dan ngedumel trus mau ngapain lagi dong?

Kalo untuk berhenti mengeluh ngga bisa atau setiap kali mau mengeluh, mungkin ya jalani aja. Atau bisa juga coba bersyukur, atas apapun. Try counting your blessings. Kalo saya mending gitu aja sih… 🙂

Jadi, sudahkah kamu mencoba untuk tidak mengeluh hari ini?

Play with Corel Draw

Today my boss is away in Jakarta for PP meeting with a client. I don’t have much to do at work so I played with Corel Draw and made this:

Park Shin-hye

I trace it from Park Shin-hye’s photograph. What did you say? Doesn’t look like her at all? Well, it really doesn’t. But this is my first attempt and I’m quite proud with the result. Hehehe… *pat myself on the back*

I’m not that good at drawing the nose and eyes. I’m bad at coloring as well. I need more practice.

See my other drawing here.